Thursday, April 19, 2018

Merajut Mimpi di dalam Do'a



Sore ini, hujan kembali turun. Tetesan air yang terbawa angin membasuhi wajahku berkali – kali seolah – olah membohongi mataku yang tak lagi tahan ingin menangis sejadi – jadinya. Kata orang, hujan  adalah waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Tida bosan dan lelah aku terus mengulang – ngulang apa yang aku pinta sembari pasrah dan ikhlas. Satu yang aku yakini, Allah memberikan yang terbaik untuk hambaNya.

Suara petir diatas langit menambah rasa cemasku untuk menantikan hari esok. Besok adalah hari terakhir pengurusuan data ( tambahan ) dari siswa undangan yang terpilih ke Universitas Indonesia. Tiga minggu yang lalu sejak penguman di sampaikan, tinggal aku yang belum menyerahkan.

Sejak tahu aku lulus di UI Orang tuaku merasa bahagia yang mungkin tak bisa aku jelaskan.  Rasa bangga tampak jelas dari raut wajah kedua orang tuaku yang sudah tidak muda lagi. Ayah dan ibuku seorang petani, aku memiliki dua adik perempuan yang masih duduk dibangku SMP. Atika kelas 1 dan Rahmi kelas 3. Bagi kedua orang tuaku pendidikan adalah segalanya, segala keperluan untuk mendukung pendidikan kami selalu Ayah penuhi selagi beliau mampu apalagi menyangkut tentang buku. Ayah rela untuk menyampingkan sesuatu yang Ia inginkan demi  membeli sebuah buku untuk kami. Bagi beliau, anak – anaknya harus pinter, harus sekolah diperguruan tinggi, biar dapat kerja yang bagus dan bisa bermanfaat untuk orang lain. Cita – cita Ayah yang ingin aku masuk di perguruan tinggi menjadi motivasiku sejak dulu.

Senja berganti malam. Mataku sudah tidak bisa terpejam pandanganku jauh keatas atap langit – langit rumah sambil memikirkan rangkaian kata yang akan kusampaikan esok ke wali kelas. Suara jangkrik dan kodok selepas hujan memecahkan keheningan malam yang semakin larut serta dingin. Jam sudah menunjukkan pukul 1 tapi mata ini masih tak mau diajak kompromi untuk tidur. Sambil membaca Ayat kursi yang sudah beberapa kalinya aku baca, aku tertidur sampai terdengar suara lonceng jam dirumah. Dengan setengah sadar aku mulai menghitung untuk memastikan pukul berapa sekarang?. Teng... teng.. teng... teng... kemudian berhenti.

udah jam4 bentar lagi subuh... “aku berbicara dihati
Aku langsung bergegas mengambil wudhu untuk sholat Tahajud. Dan lagi, disepertiga malam ini aku berdoa dan berpasrah diri. Air mataku jatuh membasahi mukenahku, meminta yang terbaik menurutNya bukan menurutku. Jika jalanku bukan di UI ini aku minta kekuatan kesabaran dan keikhlasan. Aku percaya, Allah maha tau yang terbaik untuk hambaNya.

Selesai sholat subuh aku mengaji dua halaman sebelum siap – siap untuk berangkat kesekolah. Seperti biasa ibu sudah mulai sibuk didapur mempersiapkan sarapan pagi sebelum kami beraktivitas.

“Ana”, Ayah memanggil aku.

“Maafin ayah ya... ayah gak bisa bantu ana. Nanti ngomong ke ibuk wali kelasnya bagaimana?” Nampak linangan air mata Ayah yang masih berusaha untuk tegar.

“Gak papa yah... Insya Allah mudah – mudahan ibu itu bisa menerima alasan ana... “

Aku tahan sedih ku agar tidak menangis didepan Ayah. Aku tahiu jika Ayah melihatku menangis Ayah pasti sedih dan merasa bersalah. Kusiapkan keperluan bekal ku dan keperluan sekolah lainnya, cepat – cepat aku berpamitan untuk berangkat kesekolah.

Aku berjalan dari gerbang sekolah menuju lantai tiga. Di SMA N 1 Bukittinggi kelas 3 di lantai paling atas. Terbagi dua bagian deretan depan kelas IPA dan belakang IPS.

“Ana…..” dari jauh terdengar suara perempuan yang teriakan memecah hening lorong lantai tiga yang masih sangat pagi.
Safa menuju kearah ku
“Ana dipanggil ibu sukma, disuruh keruangan BK. “
“Oh,  iya, makasih fa…” jawabku

Aku tidak menyangka kalau ibu sukma datang pagi sekali. Aku sengaja pergi cepat karena ingin menghindar dari beliau. Tapi cepat atau lambat pasti bakal dipanggil juga.
Satu – demi satu aku melewati anak tangga. Suara sepatuku terdengar sampai ke lantai dua. Aku melambatkan gerak jalanku sambil mengumpulkan nyali dan kata – kata saat bertemu dengan wali kelasku nanti.

Aku terdiam di depan pintu ruangan BK, ku mulai dengan Bismillah dan ku beranikan diri untuk mengetuk pintu.

Tok.. tok.. tok..
“Masuk”, kata ibu sukma.
Tangan dan kaki ku mulai dingin. Detak jantungpun mulai tidak seirama lagi. Kali ini aku pasrah sama Allah.
“Duduk an…” Iibu sukma mempersilahkan aku duduk.
“Makasih bu…”
“Bagaimana an, data kita hari ini terakhir harus segera dikirim. Pihak kampus akan mengolah data siswa undangan minggu depan. Tinggal ana yang belum kelengkapan data pendukungnya.”
Dengan wajah tertunduk, suara yang bergetar aku mencoba mencoba menjawab.
“Ibu… sebelumnya ana mohon maaf. Sepertinya ana mengundurkan diri dari siswa undangan ini bu.
Kenapa? Ibu sukma langsung memotong perkataanku sambil penasaran

“Iya bu, itu yang saya fikirkan dari semalam. Sebelum pengajuan siswa undangan ini saya pelajari semuanya tentang siswa undangan ini termasuk denda yang akan diterima untuk sekolah jika kita lulus terus mengundurkan diri. Saya tahu dampaknya ini untuk adik kelas dibawah saya, dua tahun kedepan pihak UI tidak membuka siswa undangan kesekolah kita.

Jujur bu, Ayah saya sangat bergembira dengan siswa undangan yang saya dapatkan. Sejak berita itu keluar Ayah mulai mengumpulkan uang untuk biaya transport dan lainnya saat tiba disana. Tapi, 10 hari yang lalu adik saya dioperasi bu. Ada infeksi di usus besarnya. Uang tabungan Ayah dan Uang yang rencana untuk biaya keberangkatan saya terpakai untuk biaya operasi bu. 2 hari yang lalu baru pulang dari rumah sakit. Uang tabungan saya yang saya kumpulkan dari mengajar less private pun saya serahkan ke Ayah karena kekurangan dana”.

Sedikit banyaknya ibu sukma tahu bagaimana latar belakangku. Beliau tahu jika aku mengajar private Bahasa Inggris setiap sabtu dan minggu, dari pagi hingga sore. Hari biasa setelah Ba’da Ashar aku mengajar ngaji khusus Iqra’ sampai Magrib. Selain karena memang kesenanganku mengajar membantu Ayah dalam segi ekonomi adalah salah satunya. Biaya kesekolah dan keperluan sekolah Alhamdulillah sudah bias aku tanggung sendiri.

“Ayah malu bu, kalo minjam kekeluarga karena kehidapan mereka tidak jauh beda dengan keluarga saya. Jujur, saya sebenarnya sedih bu, memakai almamater kuning ( UI ) impian saya sejak di Parabek ( pesantren ) dulu. Salah satu alasan saya tidak lanjut diparabek karena saya ingin sekolah umum dan bisa lanjut ke UI. Harapan saya terbuka luas jalan untuk menuju kesana mengingat soal yang diujiankan tidak jauh dari pelajaran sekolah umum.”

Dengan wajah tertunduk air mata saya terus mengalir... mau tidak mau saya harus berterus terang apa adanya ke ibu sukma agar tidak salah paham.
Ini yang membuat ibu salut dengan kamu. Kamu itu pinter, berprestasi dan sangat mandiri. Salah satu ibu mensuport kamu ikut siswa undangan ini karena kamu layak masuk disalah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Sekarang, kamu pulang kerumah minta ijin keorang tua dan bawa semua berkas yang ada dirumah kesekolah secepatnya. Ibu tunggu sampai dzuhur nanti ya… soal biaya transportasi dan biaya kos ibu mau kasih untuk 2 bulan saat kamu sampai di Depok.

“Tapi bu… saya malu menerimanya.
Udah… ibu ikhlas. Kamu pantes masuk diperguruan yang kamu inginkan. Kamu layak! Ibu yakin kamupun disana bisa kuliah sambil kerja kan?
Iya bu… memang itu rencana saya. Kuliah sambil kerja untuk bisa meringankan Ayah.
Udah ayok cepat ya… bawa berkasnya kesekolah. Ibu tunggu…!”

Aku langsung sujud syukur, dan langsung mencium tangan ibu sukma. Badanku yang dipeluknya erat dan hangat sama seperti pelukan ibu dirumah.

“Terima kasih banyak ya bu.. saya tidak tahu bagaiman membalas jasa ibu. Hanya Allah yang bisa membalas semuanya..sambil menangis ibu sukma pun masih memeluk erat “
“Iya.. ibu doakan kamu menjadi orang hebat, orang yang bermanfaat untuk orang lain dan tetap rendah hati.. “
“Iya bu Insya Allah.. “ ujarku

Sambil berlari kegerbang sekolah aku menuju mobil merci 01 Tilatang Kamang untuk segera pulang. Diatas angkot tak henti aku mengucapkan syukur pada Allah… aku ingin menangis sejadi – jadinya atas nikmat yang Dia berikan. Sambil terbayang wajah Ayah dan Ibu aku ingat perkataan dari salah seorang Ustadzah dipesantren dulu jangan pernah takut untuk bermimpi dan  jangan putus asa dalam berdoa, Allah pasti melihat usaha kita.  Semua berawal dari mimpi….
Tak sabar rasanya aku ingin cepat sampai kerumah. Ingin cepat bertemu Ayah dan Ibu … mungkin ini awal kehidupan baru aku yang akan segera dimulai.  









                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           

13 comments:

  1. Ceritanya bagus

    ReplyDelete
  2. Ceritanya bagus ..
    Tapi masih agak banyak typo nya kak :D

    ReplyDelete
  3. Subhanallah....... Jadi terharu ketika membacanya, ikut merasakan beratnya menentukan sebuah pilihan

    ReplyDelete
  4. cerita yang bagus dalam merajut mimpi
    ketika mimpi akan menjadi kenyataan
    dalam usaha dibarengi dengan doa

    suatu kesenangan bila mimpi kita akan menjadi nyata

    ReplyDelete
  5. Katanya dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Doa itu sebagai kunci.. btw.. ceritanya bagus deh :)

    ReplyDelete
  6. Btw ini cerpen apa kisah nyata Ira? Terharu saya dibuatnya. Mirip dengan apa yang terjadi pada saya 20 tahun lalu saat akan menjadi siswa undangan ke IPB.

    ReplyDelete
  7. Tersentuh, cerita yang indah dalam merajut mimpi. Keren kak

    ReplyDelete
  8. saya pernah juga kak mimpi ayah, sedih kak..Tapi berbeda dengan kakak

    ReplyDelete
  9. Ceritanya bagus, ga ada yang sia-sia jika Kita terus berusaha dan berdoa ^-^.

    ReplyDelete
  10. jadi ingat 16tahun lalu dsaat mo lanjutin kuliah tapi ortu ga bisa krna ekonomi, tapi alhamdulillah klo emg niatny tulus insya Allah impian bisa diwujudkan, meski harus tertunda bbrpa tahun. mindset is doa

    ReplyDelete
  11. Wah tersentuh sejali membacanya.. the power of pray

    ReplyDelete
  12. Aku nangis bacanya kak.
    Sedih.
    Nyesek.
    Ikutan merasanya klo berada di posisi ana.

    Beruntung ada solusi.
    Selalu ada kemudahan dibalik kesulitan ya :)

    ReplyDelete
  13. Hidup berawal dari Mimpi.
    Dan Doa adalah kekuatan yang merubah Mimpi menjadi kenyataan.
    ehm...
    eh kok jadi sok bijak gini yaa... hehehhe
    dah dah... jangan lupa mampir di www.melancongcoy.com

    ReplyDelete