Thursday, January 18, 2018

Bangkitnya Surau Kami



Anak - Anak Surau Kaciak


Sore itu, ketika saya memasuki rumah panggung yang terbuat dari kayu, mata saya langsung  tertuju pada sesosok Bapak yang mungkin usia beliau sudah lewat dari ¾ abad. Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan huruf hijaiyah diulang sampai beberapa kali sambil diikuti oleh anak – anak tersebut. Dengan wajah yang penuh hangat dan ucapan salam Bapak mempersilahkan saya dan umi untuk duduk. Ini kedatangan saya ke dua kalinya ke tempat ini. Saya duduk  tepat dibawah jendela yang sedang terbuka pintunya. Sesekali angin bertiup masuk kedalam yang membuat mata saya menjadi ngantuk. Saya alihkan rasa kantuk saya dengan melihat – lihat judul – judul buku yang tersusun rapih diatas meja.


Pasti penghuni rumah ini hobi baca,” tebakan saya didalam hati.

Surau Kaciak, papan nama yang terpampang ketika kita akan sampai ketempat ini. “Surau’ bukan sesuatu istilah yang asing bagi saya. Saya yang berketurunan minang istilah surau sering saya dengar dalam kehidupan sehari – hari. Berbicara tentang minangkabau tidak terlepas dari Budaya, Adat – istiadat dan Agamanya. Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah salah satu falsafah yang dikenal dari masyarakat Minangkabau.


Senyum tulus dari Anak - anak Surau Kaciak




 “Surau” salah satu bagian terunik dari minangkabau pada dasarnya memiliki fungsi yang sama dengan mesjid, yaitu tempat untuk melaksanakan ibadah bagi penganut Agama Islam. Bedanya, ukuruan surau lebih kecil dari pada Mesjid.
Istilah Surau menurut Wisran Hadi, diambil dari kata Sarawasa / Swarwa yang berarti segala, semua, macam – macam. Maksudnya, Tempat melakukan segalanya dalam hal Pendidikan, Pengetahuan dan Pengembangan diri.

Zaman dahulu, seorang anak Laki – laki yang sudah akil baligh tidak lagi tidur dirumahnya, Ketika sudah beranjak dewasa mereka harus tidur disurau. Disuraulah mereka mendapatkan Ilmu Agama, Petatah – Petitih adat minangkabau, Bela diri dan tempat untuk dipersiapkannya belajar memegang amanah dan tanggung jawab.

“Suffah” ( Pada Zaman Rasullullah  SAW ) yang juga di adopsi oleh Surau di Ranah Minang pada zaman dahulu, Dr Sauqi Abu Khalil dalam Athlas Al-Hadith Al-Nabawi menjelaskan Ash- shuffah sebagai teras yang luas dan tinggi. Menurut Beliau,As-shuffah adalah tempat berteduh dimesjid Nabawi di madinah selama masa kenabian setelah hijrah. Gelombang kedatangan kaum muslimin dari mekkah – ke madinah dalam masa hijrah tersebut, ternyata memunculkan masalah. Kaum muhajirin yang tidak bisa langsung mendapatkan pekerjaan dan tidak memiliki modal menjadi latar belakang terjadinya ketimpangan dalam segi ekonomi. Disebut preman, budak, dan tergolong orang – orang miskin yang terbelakang menjadikan mereka rendah di kehidupan social. Para penghuni Suffah ini kemudian disebut Ahlussuffah. Mereka hidup bersama Rasullullah, diperbedayakan ekonominya, ditinggikan derajatnya dengan ilmu yang mereka dapat langsung dari Rasullullah. Mereka ibarat perpustakaan terbesar pada saat itu, yang ilmunya terus bertambah seiring waktu dan di praktekkan langsung didunia nyata kehidupan sehari – hari.

Dengan mengambil konsep Suffah, Surau Kaciak yang diresmikan pada tanggal 1 Maret 2013 menjadikan “Rumah Sementara” bagi anak – anak di daerah Sungai Angek, Baso.

“Karena saya penikmat Senyum” kak ira, apalagi terpancar dari bola – bola mata anak – anak yang melihat mereka tumbuh menjadi lebih baik dari hari ke hari adalah kepuasan yang susah saya jelaskan…” Ujar Aan, selaku Ketua Surau Kaciak.

Memasuki fase transisi dari anak – anak ke dewasa, berbagai permasalahan yang ada baik di sekolah maupun di keluarga dan permasalahan di lingkungan sekitar tempat tinggalnya membuat beliau tergerak hatinya untuk “Melakukan Sesuatu” dikampungnya. Pemuda yang merelakan gelar kesarjanaanya ini, fokus membangun Surau Kaciak bersama Da Bet, Da Nanda dan teman relawan lainnya yang masih bertahan di Zaman Era Digital pada saat ini. Surau Kaciak, sebagai “Rumah Sementara” selalu didatangi anak – anak sekitar setiap harinya untuk menuntut ilmu, baik Ilmu Agama dan Umum, Bahasa Inggris serta pembentukan Kepribadian.

Tidak sekedar Ilmu Agama dan Umum saja yang bisa didapat, di Surau Kaciak juga banyak anak – anak binaan Olah Raga Panjat Tebing. Dengan dilatih oleh Aan langsung, anak – anak binaan beliau tidak sedikit yang berhasil mengharumkan Bendera Harimau (Agam) di SUMBAR sendiri bahkan di Nasional. Alya Atlit Putri Peraih Medali Emas Porprov Sumbar 2014, Sendi Juara 2 Panjat Tebing Regional Sumatera tahun 2014 di Tanjung Balai Karimun padahal perlombaan ini pertama kali yang ia ikuti, Irsyad Juara 2 Open Nasional di UNP Tahun 2016, Razi Peringkat 4 Kejurnas KU Di Sawahlunto Tahun 2017. Sebagian Anak – Anak dari Surau Kaciak yang membuat orang tua mereka menitikkan air mata akan prestasi yang membanggakan. Masih banyak lagi kejuaraan – kejuaraan yang diikuti baik ditingkat Provinsi maupun Nasional. Empat Tahun terakhir menjadi prestasi tertinggi bagi Adik – Adik kita di Surau Kaciak.


Adik - adik disurau kaciak Latihan Panjat Tebing

Dengan lihainya gadis cantik ini latihan




Melihat Kondisi pada sekarang ini, surau tidak lagi berperan penting dalam pembentukan pribadi Anak – Anak di Minangkabau. Mengembalikan Fungsi Surau seperti dahulu, hampir mustahil rasanya karena pengaruh Zaman. “ Kembali Ke Surau “ menjadi harapan bagi kita semua untuk bisa berperan seperti dahulu. Semoga Surau Kaciak lainnya akan tumbuh di Ranah Minang kita ini. 

2 comments:

  1. Alhamdulillah masih ada yg mau menggalakan kembali ke Surau ya Irra. Di Pekanbaru saya terbiasa menyebut Surau krn banyak oramg Minangnya.

    Semoga prestasi adik-adik di Surau Kaciak semakin cetar membahaba. Aamin YRA

    ReplyDelete