Thursday, April 19, 2018

Merajut Mimpi di dalam Do'a



Sore ini, hujan kembali turun. Tetesan air yang terbawa angin membasuhi wajahku berkali – kali seolah – olah membohongi mataku yang tak lagi tahan ingin menangis sejadi – jadinya. Kata orang, hujan  adalah waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Tida bosan dan lelah aku terus mengulang – ngulang apa yang aku pinta sembari pasrah dan ikhlas. Satu yang aku yakini, Allah memberikan yang terbaik untuk hambaNya.

Suara petir diatas langit menambah rasa cemasku untuk menantikan hari esok. Besok adalah hari terakhir pengurusuan data ( tambahan ) dari siswa undangan yang terpilih ke Universitas Indonesia. Tiga minggu yang lalu sejak penguman di sampaikan, tinggal aku yang belum menyerahkan.

Sejak tahu aku lulus di UI Orang tuaku merasa bahagia yang mungkin tak bisa aku jelaskan.  Rasa bangga tampak jelas dari raut wajah kedua orang tuaku yang sudah tidak muda lagi. Ayah dan ibuku seorang petani, aku memiliki dua adik perempuan yang masih duduk dibangku SMP. Atika kelas 1 dan Rahmi kelas 3. Bagi kedua orang tuaku pendidikan adalah segalanya, segala keperluan untuk mendukung pendidikan kami selalu Ayah penuhi selagi beliau mampu apalagi menyangkut tentang buku. Ayah rela untuk menyampingkan sesuatu yang Ia inginkan demi  membeli sebuah buku untuk kami. Bagi beliau, anak – anaknya harus pinter, harus sekolah diperguruan tinggi, biar dapat kerja yang bagus dan bisa bermanfaat untuk orang lain. Cita – cita Ayah yang ingin aku masuk di perguruan tinggi menjadi motivasiku sejak dulu.

Senja berganti malam. Mataku sudah tidak bisa terpejam pandanganku jauh keatas atap langit – langit rumah sambil memikirkan rangkaian kata yang akan kusampaikan esok ke wali kelas. Suara jangkrik dan kodok selepas hujan memecahkan keheningan malam yang semakin larut serta dingin. Jam sudah menunjukkan pukul 1 tapi mata ini masih tak mau diajak kompromi untuk tidur. Sambil membaca Ayat kursi yang sudah beberapa kalinya aku baca, aku tertidur sampai terdengar suara lonceng jam dirumah. Dengan setengah sadar aku mulai menghitung untuk memastikan pukul berapa sekarang?. Teng... teng.. teng... teng... kemudian berhenti.

udah jam4 bentar lagi subuh... “aku berbicara dihati
Aku langsung bergegas mengambil wudhu untuk sholat Tahajud. Dan lagi, disepertiga malam ini aku berdoa dan berpasrah diri. Air mataku jatuh membasahi mukenahku, meminta yang terbaik menurutNya bukan menurutku. Jika jalanku bukan di UI ini aku minta kekuatan kesabaran dan keikhlasan. Aku percaya, Allah maha tau yang terbaik untuk hambaNya.

Selesai sholat subuh aku mengaji dua halaman sebelum siap – siap untuk berangkat kesekolah. Seperti biasa ibu sudah mulai sibuk didapur mempersiapkan sarapan pagi sebelum kami beraktivitas.

“Ana”, Ayah memanggil aku.

“Maafin ayah ya... ayah gak bisa bantu ana. Nanti ngomong ke ibuk wali kelasnya bagaimana?” Nampak linangan air mata Ayah yang masih berusaha untuk tegar.

“Gak papa yah... Insya Allah mudah – mudahan ibu itu bisa menerima alasan ana... “

Aku tahan sedih ku agar tidak menangis didepan Ayah. Aku tahiu jika Ayah melihatku menangis Ayah pasti sedih dan merasa bersalah. Kusiapkan keperluan bekal ku dan keperluan sekolah lainnya, cepat – cepat aku berpamitan untuk berangkat kesekolah.

Aku berjalan dari gerbang sekolah menuju lantai tiga. Di SMA N 1 Bukittinggi kelas 3 di lantai paling atas. Terbagi dua bagian deretan depan kelas IPA dan belakang IPS.

“Ana…..” dari jauh terdengar suara perempuan yang teriakan memecah hening lorong lantai tiga yang masih sangat pagi.
Safa menuju kearah ku
“Ana dipanggil ibu sukma, disuruh keruangan BK. “
“Oh,  iya, makasih fa…” jawabku

Aku tidak menyangka kalau ibu sukma datang pagi sekali. Aku sengaja pergi cepat karena ingin menghindar dari beliau. Tapi cepat atau lambat pasti bakal dipanggil juga.
Satu – demi satu aku melewati anak tangga. Suara sepatuku terdengar sampai ke lantai dua. Aku melambatkan gerak jalanku sambil mengumpulkan nyali dan kata – kata saat bertemu dengan wali kelasku nanti.

Aku terdiam di depan pintu ruangan BK, ku mulai dengan Bismillah dan ku beranikan diri untuk mengetuk pintu.

Tok.. tok.. tok..
“Masuk”, kata ibu sukma.
Tangan dan kaki ku mulai dingin. Detak jantungpun mulai tidak seirama lagi. Kali ini aku pasrah sama Allah.
“Duduk an…” Iibu sukma mempersilahkan aku duduk.
“Makasih bu…”
“Bagaimana an, data kita hari ini terakhir harus segera dikirim. Pihak kampus akan mengolah data siswa undangan minggu depan. Tinggal ana yang belum kelengkapan data pendukungnya.”
Dengan wajah tertunduk, suara yang bergetar aku mencoba mencoba menjawab.
“Ibu… sebelumnya ana mohon maaf. Sepertinya ana mengundurkan diri dari siswa undangan ini bu.
Kenapa? Ibu sukma langsung memotong perkataanku sambil penasaran

“Iya bu, itu yang saya fikirkan dari semalam. Sebelum pengajuan siswa undangan ini saya pelajari semuanya tentang siswa undangan ini termasuk denda yang akan diterima untuk sekolah jika kita lulus terus mengundurkan diri. Saya tahu dampaknya ini untuk adik kelas dibawah saya, dua tahun kedepan pihak UI tidak membuka siswa undangan kesekolah kita.

Jujur bu, Ayah saya sangat bergembira dengan siswa undangan yang saya dapatkan. Sejak berita itu keluar Ayah mulai mengumpulkan uang untuk biaya transport dan lainnya saat tiba disana. Tapi, 10 hari yang lalu adik saya dioperasi bu. Ada infeksi di usus besarnya. Uang tabungan Ayah dan Uang yang rencana untuk biaya keberangkatan saya terpakai untuk biaya operasi bu. 2 hari yang lalu baru pulang dari rumah sakit. Uang tabungan saya yang saya kumpulkan dari mengajar less private pun saya serahkan ke Ayah karena kekurangan dana”.

Sedikit banyaknya ibu sukma tahu bagaimana latar belakangku. Beliau tahu jika aku mengajar private Bahasa Inggris setiap sabtu dan minggu, dari pagi hingga sore. Hari biasa setelah Ba’da Ashar aku mengajar ngaji khusus Iqra’ sampai Magrib. Selain karena memang kesenanganku mengajar membantu Ayah dalam segi ekonomi adalah salah satunya. Biaya kesekolah dan keperluan sekolah Alhamdulillah sudah bias aku tanggung sendiri.

“Ayah malu bu, kalo minjam kekeluarga karena kehidapan mereka tidak jauh beda dengan keluarga saya. Jujur, saya sebenarnya sedih bu, memakai almamater kuning ( UI ) impian saya sejak di Parabek ( pesantren ) dulu. Salah satu alasan saya tidak lanjut diparabek karena saya ingin sekolah umum dan bisa lanjut ke UI. Harapan saya terbuka luas jalan untuk menuju kesana mengingat soal yang diujiankan tidak jauh dari pelajaran sekolah umum.”

Dengan wajah tertunduk air mata saya terus mengalir... mau tidak mau saya harus berterus terang apa adanya ke ibu sukma agar tidak salah paham.
Ini yang membuat ibu salut dengan kamu. Kamu itu pinter, berprestasi dan sangat mandiri. Salah satu ibu mensuport kamu ikut siswa undangan ini karena kamu layak masuk disalah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Sekarang, kamu pulang kerumah minta ijin keorang tua dan bawa semua berkas yang ada dirumah kesekolah secepatnya. Ibu tunggu sampai dzuhur nanti ya… soal biaya transportasi dan biaya kos ibu mau kasih untuk 2 bulan saat kamu sampai di Depok.

“Tapi bu… saya malu menerimanya.
Udah… ibu ikhlas. Kamu pantes masuk diperguruan yang kamu inginkan. Kamu layak! Ibu yakin kamupun disana bisa kuliah sambil kerja kan?
Iya bu… memang itu rencana saya. Kuliah sambil kerja untuk bisa meringankan Ayah.
Udah ayok cepat ya… bawa berkasnya kesekolah. Ibu tunggu…!”

Aku langsung sujud syukur, dan langsung mencium tangan ibu sukma. Badanku yang dipeluknya erat dan hangat sama seperti pelukan ibu dirumah.

“Terima kasih banyak ya bu.. saya tidak tahu bagaiman membalas jasa ibu. Hanya Allah yang bisa membalas semuanya..sambil menangis ibu sukma pun masih memeluk erat “
“Iya.. ibu doakan kamu menjadi orang hebat, orang yang bermanfaat untuk orang lain dan tetap rendah hati.. “
“Iya bu Insya Allah.. “ ujarku

Sambil berlari kegerbang sekolah aku menuju mobil merci 01 Tilatang Kamang untuk segera pulang. Diatas angkot tak henti aku mengucapkan syukur pada Allah… aku ingin menangis sejadi – jadinya atas nikmat yang Dia berikan. Sambil terbayang wajah Ayah dan Ibu aku ingat perkataan dari salah seorang Ustadzah dipesantren dulu jangan pernah takut untuk bermimpi dan  jangan putus asa dalam berdoa, Allah pasti melihat usaha kita.  Semua berawal dari mimpi….
Tak sabar rasanya aku ingin cepat sampai kerumah. Ingin cepat bertemu Ayah dan Ibu … mungkin ini awal kehidupan baru aku yang akan segera dimulai.  









                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           

Sunday, April 15, 2018

Resep Gulai Keladi






Gulai Keladi Banyak Anak siap disantap








Talas / keladi sering kita jumpai dan nikmati dalam kehidupan sehari - hari. Tumbuhan berkarbohidrat ini termasuk dalam jenis umbi - umbian. Umbi yang bisa dimasak dengan cara direbus, dikukus maupun digoreng memiliki kandungan vitamin yang sangat banyak diantaranya; zat besi, kalsium, protein, vitamin B dan air. 
Memperlancar pencernaan, menogabati bisul dan menyehatkan gigi adalah sekian dari beberapa manfaat keladi / talas yang masih dipandang makanan sebelah mata oleh sebagian orang. 


Nah, kali ini saya mencoba mengolah keladi dengan cara yang berbeda dari lainnya. Keladi yang saya gunakan adalah keladi banyak anak ( dikampung saya namanya ini ). Batang yang bercabang banyak dan berukuran lebih kecil dari keladi pada umumnya makanya disebut keladi banyak anak. Rasanya yang manis, gurih dan lembut cocok disajikan bersama nasi hangat. 

Di Pariaman asal kampung saya, keladi ini banyak kita jumpai di pasar traditional. Dengan pengolahan yang tepat tumbuhan ini bisa berubah menjadi makanan yang sangat nikmat. Makanan ini slalu jadi menu favorit kami setiap pulang kampung. Zaman dahulu makanan ini sering djadikan bekal yang sangat praktis dan enak untuk orang tua yang akan pergi kesawah.  

Ayuk... liat cara pembuatannya!



Cara membersihkan keladi

Keladi yang sudah dikupas dicuci dengan menggunakan garam, ini bertujuan agar getah dan lendirnya keluar dan tidak menimbulkan gatal dilidah pada saat dimakan. Setelah dicuci dengan air garam lalu bersihkan dengan air bersih kemudian tiriskan.




Bahan

Keladi / Talas
Cabe rawit                              15 buah
Bawang merah                       4   siung
Bawang putih                          2   siung
Jahe                                      secukupnya
Kunyit                                    secukupnya
Daun kunyit                           secukupnya
Santan                                   secukupnya
Garam                                    secukupnya
Asam Kandis                            

note : jika tidak ada asam kandis, bisa digantikan dengan asam biasa. tingkat keasamaannya bisa tergantung selera



Cara Membuat

Keladi / talas yang sudah dibersihkan dipotong sesuai selera

Haluskan bawang merah, bawang putih, kunyit dan jahe. Untuk cabe rawit cukup digerpek saja.

Tumis bumbu yang sudah dihaluskan tadi dengan sedikit minyak makan. Setelah wangi masukkan cabe rawit dan santan. Aduk terus agar tidak pecah santan.

Setelah mendidih masukan keladi/ talas yang sudah dipotong – potong, garam dan daun kunyit. Aduk terus sampai keladinya sudah empuk.

Bila sudah empuk angkat lalu tiriskan.



Mudahkan? Gulai ini sangat cocok untuk makan siang dan apalagi disuguhi pemandangan sawah yang terbentang luas dan angin sepoi - sepoi. 


Selamat mencoba ^^ 😋




Wednesday, March 28, 2018

Kue Timpan, Kue Wajib Khas Aceh








Kue Traditional Khas Aceh, Kue Timpan

jika kita berkunjung ke Aceh, jangan lupa mencoba menikmati kue Timpan. Makanan khas tanah rencong ini dapat kita jumpai pada saat duduk di warung kopi, toko kue atau acara besar seperti Pernikahan, Hari Raya, Maulid Nabi dan lainnya.

Kue yang termasuk pada jenis kue basah ini umumnya terbuat dari bahan dasar ketan dan pisang raja, tapi dengan perkembangan zaman sebagian juga ada yang menggunakan labu kuning. Untuk varian rasa dalamnya bisa tergantung selera, ada yang berisi srikaya dan ada berisikan parutan kelapa.

Kali ini saya mencoba kue timpan yang terbuat dari labu kuning yang berisis kelapa parut didalamnya. Kue yang dibungkus dengan daun pisang muda ini, menjadi buah tangan yang di cari selain kopi oleh wisatawan saat berkunjung di Bumi Serambi Mekah. Rasa manis dan gurih, teksturnya yang lembut dan aroma khas dari kue ini dihargai Rp.1000,- per buah, murah banget kan? Gak sebanding dengan cara pembuatannya yang memerlukan waktu yang lama.

Bagi masyarakat Aceh kue ini wajib ada pada saat Hari Raya ( Idul Fitri maupun Idul Adha ) dan Pernikahan. Biasanya kue timpan disajikan bersama menu utama lainnya. Ini sudah menjadi tradisi turun menurun dikehidupan masyarakat Aceh.
Jadi, kalau main ke Aceh jangan lupa makan kue ini ya ! :D


Thursday, February 15, 2018

Tips dan Trik cara mudah menghafal Al Qur'an


Photo by : Cahaya diatas Cahaya



Ada yang bilang..... ngafal Al Qur’an itu susah,  dihafal satu hilang satunya lagi. 
Ada yang bilang..... aku tuh pingin banget ngafal Al Qur’an, tapi gak punya waktu. Dari pagi sampe sore kerja, trus sampe rumah udah capek lalu tidur.
Ada yang bilang... aku pingin bisa ngafal Al Qur’an tapi sibuk dengan kerjaan rumah yang segudang trus ngurus anak - anak.

Dari segunung alasan yang ada, kuncinya cuma satu NIAT. Kalo niatnya udah ada, Insya Allah pasti semua jadi mudah ☺

Saya jadi teringat berita kemarin, seorang nenek ( berumur 85 Tahun) didaerah Jawa berhasil menghafal 30 Juz dalam waktu 5 Tahun. Masya Allah ... keren ya 
Tuh ra... nenek - nenek aja bisa masak lo ngak ! ( dalam hati )

Berita ini, langsung saya share ke temen agar bisa menjadi obat semangat untuk beliau yang lagi mulai menghafal.

 Ayok neng... masak nenek itu bisa, kita gak bisa...!!! ( chat Whatsapp ).

Diambil dari kajian Ustadzah Ida dan Ustadzah Lea, saya mencoba gabungkan tips – tips yang saya dapatkan dari kedua ustadzah ini. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk teman – teman yang ingin mencoba Menghafal Al Qur’an.

Sebelumnya, hal yang diingatkan oleh ustadzah ida saat mulai menghafal yaitu,menghafal itu seumur hidup dan jangan buru – buru!.

Kewajiban kita sebagai Hamba Allah SWT terhadap Al Quran :

1.       Tilawah
Artinya membaca. Mengapa kita harus membaca? Karena dengan membaca kita mengerti makna yang terkandung dalam Al Qur'an.

2.       Tadabur
Artinya mempelajari. Hukum membaca Al Qura’an dengan benar ( sesuai tajwid ) adalah Fardhu ‘Ain ( Wajib untuk setiap orang ). Mau tidak mau kita wajib mempelajari ilmu tajwid walaupun sedikit. Sebab, akan terasa sulit saat membaca dan memahami jika tidak mengerti ilmu tajwid sama sekali.

3.       Kita wajib memahami Al Qur’an
Tujuan kita membaca Al Qur’an adalah memahami. Memahami isi yang terkandung didalamnya, karena Al Qur’an adalah pedoman hidup manusia untuk diamalkan isinya, agar hidup kita di ridhoi oleh Allah SWT.

4.       Kita wajib menghafalkannya
Setelah kita wajib membaca, mempelajari,memahami, selanjutnya adalah menghafalkannya. Sebagai contoh; di dalam Sholat, kita wajib membaca surat Al Fatihah dan surat pendek lainnya. Kita akan merasa kesulitan dalam mengerjakan sholat jika tidak bisa menghafalkannya.


5.       Kita wajib mengamalkan dan menyampaikan
Al Qur’an sebagai pedoman hidup orang muslim dan sebagai obat penyembuh hati yang sakit bila kita amalkan dalam kehidupan sehari hari. Kebaikan – kebaikan yang terkandung didalam Al Qur’an alangkah lebih bagus jika kita sebarkan / menyampaikannya kepada orang lain. Selain untuk menambah pahala sekaligus ajang dakwah kita terhadap Agamanya Allah SWT.

Trik Sebelum Menghafal Al Qur’an :

1.       Harus mempunyai tekad / Azzam yang kuat
Misalnya : ingin menjadi hafidzah yang nantinya bermanfaat untuk ummat, ingin menjadi hafidzah untuk orang tua nanti yang bermanfaat diakhirat kelak.

2.       Mensugestikan diri kalau menghafal itu mudah.
Yup, ini bener banget. Saat kita bilang susah atau sulit, saat kita menghafal akan terasa susah. Tapi ketika kita bilang hafalan ini mudah, pasti bisa, Insya Allah pasti bisa dan mudah.

3.       Perbanyak senyum
Seorang penghafal Al Qur’an harus banyak senyum. Jangan cemberut. Menghafal dengan rasa senang dan bahagia, jangan dijadikan beban.

4.       Perbanyak minum Air Putih
Saat kita menghafal godaan syaitan banyak, terutama datangnya rasa ngantuk. Nah, disaat kita ngantuk cepat cepat untuk minum air putih agar ngantuknya hilang.

5.       Memilih tempat yang nyaman untuk menghafal
Carilah posisi yang benar – benar membuat kita nyaman. Agar surat yang kita hafal menjadi mudah untuk masuk dikepala.

6.       Memilih waktu yang baik
Waktu yang bagus untuk menghafal :
-          1 jam sebelum subuh
-          1 jam setelah subuh
-          Ketika bangun tidur malam 
-          Sedikit waktu lebih bagus tapi efektif dari pada waktu yang banyak tapi tidak efektif.

7.       Memilih Mushaf
Mulailah mencari Al Qur’an yang nyaman saat membacanya, enak dibawa – bawa dan jelas tulisannya.

8.       Memilih guru yang tepat
Saat kita sudah memiliki hafalan, carilah guru yang tepat untuk menyetor hafalan kita. Guru yang bisa mengkoreksi hafalan dan tajwid kita.

Tips Efektif bagaimana menghafal Al Qur’an :

1.       Niat yang baik
Niatkan kita menghafal Al Qur’an ini untuk meraih ridho Allah SWT
2.       Komitmen
Berkomitmenlah dengan diri sendiri sehari kita bisanya dapat berapa. Satu baris?  setengah halaman? satu halaman? Seberapapun bisa yang dihafal satu hari usahakan konsisten.
3.       Menyiapkan mental
Jangan mudah berputus asa saat hafalan susah masuk, sabar adalah kuncinya ( melatih kesabaran ).
4.       Latihan pernafasan
Latihan pernafasan bisa dilakukan dengan cara rutin berolahraga, ini bertujuan untuk melatih  nafas kita agar panjang saat membaca Al Qur’an.
5.       Bukan untuk diburu – buru bukan pula untuk ditunda – tunda
6.       Menghafal bukan sekedar untuk mengkhatamkan, tapi rasa senangnya saat bersama Al Qur’an
7.       Muraja’ah / mengulang
Perbanyak mengulang dari pada hafalan baru
Contoh : waktu menghafal 1 jam, waktu mengulang / muraja’ah 3 jam
8.       Menghafal secara sesuap – sesuap
Contoh : menghafal ayat 1, masuk hafalan ayat ke 2 tapi diulang dari ayat 1. Pejamkan mata kemudian diulang 3 kali sambil membayangkan ayat yang dihafal.
9.       Fokus
Memegang mushaf sejajar dengan kedua mata dan hadirkan perasaan saat dalam menghafal.
10.   Pemanasan otak
Contoh :  sebelum mulai menghafal,  sebaiknya kita mengulang – ngulang hafalan yang telah didapat selama 5 menit.

Tips agar anak bisa menghafal Al Qur’an :

1.       Dimulai saat mencari pasangan, carilah pasangan yang sejalan dan mendukung anak menjadi penghafal Al Qur’an
2.       Saat dalam kandungan sering – sering tilawah atau mendengarkan Al Qur’an
3.       Jangan memaksakan anak
4.       Ajari anak menghafal dengan cara yang unik dan tidak membuat ia bosan
5.       Konsisten
6.       Pilih waktu yang terbaik untuk menghafal
7.       Ketika anak sedang asyik bermain, dengarkan ia murotal
8.       Mulai dari yang halal
9.       Jadikan orang tua contoh untuk anaknya
10.   Berilah ia penghargaan saat ia sudah bisa menghafal surat / ayat Al Qur’an

Note dari saya :
Allah SWT itu melihat dan mencatat proses saat kita sungguh – sungguh menghafal. Tiap huruf yang kita baca mengalir keberkahan dan pahala untuk kedua orang tua kita, meskipun belum menghafal semua surat yang ada didalam Al Qur’an ( ceramah dari seorang Ustad ).


Selamat mencoba! 
you can do it :)

#cekrektulisbagi #berSemangat! 



























































































Wednesday, February 7, 2018

Bajafash 2018, Siap Digelar!







Batam Jazz Fashion ( Bajafash ) siap mengguncang Batam. Bertema Representing Diversity South-East Asia, Bajafash menjadi salah satu bentuk upaya untuk menyatukan keragaman negara - negara di Asia Tenggara melalui musik dan Fashion.

Bajafash merupakan sebuah festival musik jazz yang dikolaborasikan dengan pagelaran busana dan diselenggarakan untuk keempat kalinya ditahun 2018 bertujuan untuk membuat audiens merasakan atmosfer Bajafash yang luar biasa dahsyat dikemas secara berkelas namun sederhana, dirancang dengan baik, cerdas dan edukatif.

Musik dan fashion, komoditas industri yang menjanjikan dan mempunyai potensi untuk menjadi jauh lebih besar. Untuk itu Bajafash kembali digelar sebagai dedikasi persembahan murni karya anak bangsa dari Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau.

Bajafash 2018 memberikan suguhan dengan karakter yang berbeda dari tahun - tahun sebelumnya, dengan menampilkan para musisi jazz ternama dan fashion designer dari berbagai negara. Selain itu juga dilengkapi dengan open dialogue yang menghadirkan nara sumber dari para ahli dengan harapan kota Batam menjadi salah satu " Fashion Hub " di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara.
Acara ini akan semakin lengkap dengan adanya Music Camp yang menghadirkan bintang tamu dari pemusik handal dalam bentuk master class yang akan berbagi ilmu serta pengalaman tentang cara memainkan berbagai alat musik.



Diselenggarakan di dua lokasi yang berbeda dengan masing-masing tema yang diangkat yaitu “Bajafash By The Sea” pada hari Sabtu, 17 Maret 2018 di Batam View Beach Resort dan  “Bajafash In Town” pada hari Jum’at dan Sabtu, 6-7 April 2018 di Radisson Golf & Convention Center.
Dengan diselenggarakannya Bajafash 2018 ini,  diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan baik domestik maupun manca negara untuk mendukung peningkatan ekonomi kreatif di Kota Batam sehingga semakin diperhitungkan ditingkat nasional maupun internasional sebagai kawasan yang berada diperbatasan wilayah Indonesia.




For more Information :

Contac  :  +62 778 325 769
Mail       :   official@bajafash.com


Thursday, January 25, 2018

Indahnya Bukittinggi dari Puncak Bukit Karang

Melewati Hutan menuju Bukit Karang

Perjalanan  kami, dimulai dari pukul jam  07.00 pagi. Anak – anak dan saya sangat antusias untuk segera tiba disana, terlihat gelisah dari wajah mereka, menunggu angkot yang tak kunjung datang.

Umi…. panggilan salah satu anak sambil berdiri celengak celenguk resah
Iya, ada apa ? jawab umi
Kok angkotnmya lama kali ya mi datengnya…
Udah umi telpon kok, kata bapak nya udah dekat jangkak

Dari jauh klakson mobil sudah terdengar, terlihat mobil IKB berwarna biru mencari Pondok kami. Semangat wajah anak – anak terlihat kembali yang  bosan menunggu angkot yang belum datang.

Pak.. pak.. pak… disini pak! Serentak teriak anak – anak
Dengan rem mendadak sibapak langsung berhenti, kami pun bergegas masuk ke mobil. Dengan penuh kegembiraan dan rasa penasaran terpancar dari wajah mereka.

Kami pun tiba di Nagari Baso, Sungai Angek. Sampai disana Ketua Markas Surau Kaciak menyambut kedatangan kami dengan penuh hangat dan ramah.
Udara yang masih asri, deretan bukit yang menjulang tinggi dari kejauhan dan hamparan sawah yang terbentang luas membuat saya jatuh hati pada  kampung ini.  
Rumah Panggung yag sepertinya sudah mulai tua, menjadi perhatian saya dan anak – anak. Jarang – jarang bisa bertemu dengan rumah berciri khas minang yang masih terawat sampai sekarang. Surau Kaciak, rumah yang menjadi tempat bagi anak – anak disekitar kampung Sungai Angek untuk menuntut ilmu, baik Agama maupun Pengetahuan Umum.

Bergegas meninggalkan Surau Kaciak saya dan rombongan segera melakukan perjalannan selanjutnya. Berkumpul disebuah SD, menunggu rombongan lain yang belum datang sambil menyantap gorengan yang kami bawa tadi dari pondok.

Dengan penuh semangat awal pertualangan kami berjalan melewati hutan di belakang gedung SD. Dengan didampingi pemandu didepan, saya dan para rombongan berjalan mendaki menyusuri jalan setapak. Baru berjalan saya pun mulai terpeleset, tanah yang basah karena habis hujan kemarin.

Pohon – pohon berumur tua seolah olah memyambut kedatangan kami, suara  jangkrik mulai terdengar menjadi nyanyian semangat untuk kami. Saya baru merasa manfaatnya jalan pagi setiap hari, setidaknya ketika ada perjalanan seperti sayapun tidak terlalu kaget. Mungkin ini menjadi alasan umi mengapa selalu membawa anak – anak jalan pagi setiap sabtu atau minggu, melatih pribadi anak – anak agar kuat.
Pohon karet, jamur, anggrek hutan menjadi daya tarik saya melewati setapak demi setapak menyusuri hutan Bukit Karang.





Keindahan Pohon yang menjulang tinggi membuat saya takjub


Masih jauh gak kak…? Tanya anak – anak
Masih jauh… kata si kakak pemandu

Raut wajah letih dan nada – nada nafas yang tidak seirama lagi mulai terlihat dari rombongan. Ingin cepat rasanya untuk tiba diatas puncak. Walaupun lelah dan tenaga yang mulai terkuras anak – anak masih tetap terlihat senang, Sesekali mereka memanggil saya

Adinda…. Adinda,,,,,
Semangat adinda….!

Ya, begitulah anak – anak di Pondok Qura’n memanggil saya. Teriakan mereka seolah – olah  menjadi obat semangat yang paling mujarab untuk saya. Pelan tapi pasti, kami pun sudah mulai tiba di setengah perjalanan. Kak lili dan habibah menjadi temen setia saya dalam perjalanan ini. Disaat mulai kesusahan untuk mendaki mereka selalu ada membantu saya, saat saya terjatuh mereka slalu setia untuk membangunkan saya kembali. Cucuran keringat yang mulai membasahi baju dan wajah yang mulai kelihatan lelah tidak menyurutkan niat kami untuk sampai diatas.


Setengah dari Perjalanan menuju Bukit Karang


Kurang lebih dua jam puas berjalan pagi, akhirnya tanda – tanda sampai ditujuan sudah mulai kelihatan. Wajah kami sontak berubah menjadi bahagia.

Finally… akhirnya nyampe juga....aa... ( saya pun berkata dihati )

Warna hitam, coklat dan biru dari hammock tergantung diantara pohon yang satu dengan pohon lainnya seakan – akan siap tmenyambut kedatangan kami, Aroma margarine dan roti tercium terbawa angin membuat perut berbunyi nyaring seakan memberi sinyal kuat harus diisi.






Tempat Beristirahat bagi para Trekking





Yeee sampe!
Udah sampe kak, ayok duduk dulu minum teh terus cobain roti bakarnya kak...

Suara perempuan yang masih sangat muda dari tim pemandu terdengar dari kejauhan. Para rombongan pun dengan sigap langsung mengambil posisi tempat terbaiknya sambil meluruskan kaki yang terasa masih kelelahan. Sambil menikmati teh hangat dan sepotong roti bakar, mata kamipun tidak hentinya melihat keindahan alam sekitar. Allahuakbar…. Tiada henti kami mengucapkan syukur atas keindahan ciptaan Allah.



Da Nanda sibuk membuat roti bakar untuk para trekking


Ada yang mau kepuncak nya gak? Tanggung sdikit lagi loh
Sekitar 700 m lagi dari sini
Diatas pemandangannya lebih bagus lagi lo…

Terdengar suara Da bet ( tim pemandu ) mengalihkan pandangan kami kepada beliau.

Mau …. Mau… jawab anak - anak dengan penuh semangat. 

Tanpa berpikir panjang sebagian dari rombongan ada yang langsung berdiri bersiap untuk mulai berjalan lagi, tetapi ada juga untuk setia tetap duduk sambil menikmati makanan yang telah disediakan.

Perjalanan menuju puncak ternyata lebih menantang dari yang tadi. Berjalan mendaki setapak demi setapak mulai kami lewati. Kiri kanan masih disuguhi pemandangan pepohonan yang sekali – kali terlihat pemandangan yang sangat indah dari balik – balik ranting pepohonan.

Astagfirullah… ( ucap saya dalam hati )
Kita harus naik tebing ini dek? Iya kak…
Sambil mengela nafas panjang saya pun mulai ragu dengan diri saya.
Takut....
Ayok kak… Insya Allah bisa kak ! ( habibah yang selalu setia nyemangatin saya )

Dengan bantuan tali, kami pun mulai menaiki tebing secara bergantian. Yakin dan fokus menjadi modal saya untuk menaiki tebing. 

ya Allah... seumur hidup baru kali ini rasanya manjat tebing, walaupun pake bantuan tali... kaki berasa gemetar gak karuan 


Medan tebing yang sangat memacu adrenalin saya


Medan yang semakin lama semakin menanjak, akhirnya kami pun tiba dipuncak yang pertama. Rasa capek, panas, lelah hilang semuanya ketika melihat pemandangan yang sangat indah.
Rasa syukur kepada Sang Pencipta tiada henti – hentinya kami ucapkan karena melihat ciptaan Allah yang Maha Sempurna. Sawah yang memulai menguning dan sebagian sawah ada yang terlihat masih hijau, langit berwarna biru terang, deretan bukit barisan yang terlihat menakjubkan menjadi pemandangan yang tak henti – hentinya kami syukuri.



Keindahan kota Bukittinggi dari Puncak Bukit Karang


Sayup – sayup adzan sudah mulai terdengar, waktu sudah menunjukkan 12 siang lewat.

Udah Dzuhur….
Kita balik yuk!!

Suara teriakan anak – anak dari depan terdengar mengajak kami untuk segera kembali pulang. Dengan sebatang tongkat ditangan dari kayu, yang kami dapat dari pinggir- pinggir semak – semak hutan secara bersamaan kami pun meninggalkan hutan dengan hati – hati. Perjalanan yang menurun tidak terlalu menguras tenaga saat mendaki ketika naik tadi.
Walaupun sempat salah jalan saat kembali pulang, perjalanan pulang ini sangat menjadi "spesial" untuk saya. Adegan jatuh bangunnya banyak saya rasakan ketika pulang ini.

Rintikan hujan yang semakin lama semakin lebat akhirnya kami sampai dibawah dan berlanjut berjalan untuk berkumpul di sebuah mesjid untuk melaksanakan sholat ashar dan bersih - bersih.

Dua angkot biru terlihat berjejer didepan mesjid. Pertanda kami pun harus segera kembali kepondok.

Ayok anak – anak ( teriak umi )
Kita pulang …
Ayok kita balik pulang….. !

Tap dekat pintu… tap dekat jendela… tap dibelakang teriak anak- anak

“Tap“ seolah menjadi ritual kata anak – anak untuk menandakan sesuatu milik mereka.

Umi…. Kita pulang lagi mi? Tanya salah seorang anak
Iya atuh kita pulang, nanti kesorean 

Setelah bersalaman dan pamitan, saya dan rombongan menaiki angkot yang telah menunggu dari tadi. Sambil bercerita dan tertawa, masing – masing anak dengan penuh antusias menceritakan pengalaman mereka saat trekking tadi. Rasa bahagia terlihat dari wajah dan tawa mereka. Seakan capek dan lelah tidak mereka rasakan.

Umiiii…. Kapan -kapan kita mendaki singgalang ya mi… ( terdengar teriakan tsabita )
Ayok lah mi…. ayoklah mi…..mendaki singgalang ya mi… ( sahut anak lainnya dari belakang )
kuatin fisik dulu... sering jalan... kalo udah kuat baru kita mendaki gunung jawaban umi membuat anak - anak semakin bersemangat untuk latihan. 

Perjalanan ini bukan sekedar Trekking biasa untuk saya. Dari sini, banyak sekali yang dapat saya rasakan. Perjalanan ini, membuat saya sadar makna dari sebuah perjuangan, Saling tolong menolong dan arti sebuah kebersamaan. Banyak momen yang tidak bisa saya dan anak - anak lupakan. Dan ini, tidak bisa digantikan dengan apapun.